Uncategorized

Asap Karthutla Picu Risiko Mematikan bagi Pasien Asma dan PPOK

Skala kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terus meluas hingga menembus angka 38.310 hektar hanya di wilayah Kalimantan Barat. Angin yang membawa kabut asap pekat ini terbukti memicu lonjakan kasus infeksi paru-paru dan iritasi parah di berbagai daerah, bahkan hingga menyeberang ke negara tetangga. Bagi masyarakat umum, kondisi ini mengganggu pernapasan, tetapi bagi pengidap asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), kepungan asap beracun ini adalah ancaman mematikan yang bisa memicu serangan akut kapan saja.

Bahaya polusi karhutla bagi pengidap asma dan PPOK Sensitivitas ekstrem saluran napas terhadap polutan karhutla Adjunct Professor di Griffith University, Prof. Dr. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE, FISR. menjelaskan, bahwa polusi tersebut membawa berbagai zat berbahaya yang memicu gangguan kesehatan.

“Ada tiga plus satu kandungan asap kebakaran hutan yang mengganggu kesehatan. Pertama adalah partikel, utamanya yang berukuran 2,5 mikron yang disebut PM2.5,” ungkap Prof. Tjandra kepada Kompas.com, Selasa (1/9/2026).

Menurut Direktur Pascasarjana Universitas YARSI ini, zat pencemar tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk kombinasi zat berbahaya yang memicu iritasi hebat pada saluran pernapasan.

“Gas seperti NO2 (nitrogen dioksida), ozon, dan juga hidrokarbon aromatik. Kemudian bahan organik lain akibat pembakaran pohon dan tanaman lainnya,” papar Prof. Tjandra. Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengategorikan campuran tersebut sebagai toxic mix. Bagi penderita asma, paparan kombinasi racun ini langsung memicu reaksi penolakan tubuh yang ekstrem. Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K)., menuturkan bahwa tingkat sensitivitas kelompok ini sangat tinggi. “Pasien asma kena asap saja itu sudah bengek,” ucap dia kepada Kompas.com, Rabu (2/9/2026).

Bahkan, aroma sisa kebakaran saja sudah cukup untuk mengacaukan saluran pernapasan mereka tanpa harus melihat kepulan asapnya secara langsung. “Kena bau kebakaran itu saja kadang-kadang mereka terangsang batuk dan sesaknya,” tambah Prof. Erlina. Kelumpuhan sistem pertahanan paru dan ancaman pneumonia

Ilustrasi asma pada anak. Cuaca panas saat El Nino dapat membuat saluran napas anak lebih sensitif dan memicu kambuhnya asma, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Ancaman sesak napas bukan sekadar reaksi penciuman, melainkan wujud kegagalan organ pernapasan dalam menyaring racun. Prof. Erlina memaparkan bahwa partikel halus PM2.5 dapat masuk ke bagian terdalam paru dan merusak mekanisme perlindungan alami. “Yang pertama terganggu adalah silia, bulu-bulu halus di saluran napas yang menyapu lendir dan kotoran keluar dari paru. Saat saluran napas meradang, kerja silia melemah dan kuman yang seharusnya tersapu keluar jadi bertahan,” jelas Prof. Erlina.

Kerusakan tersebut berlanjut pada garis pertahanan berikutnya yang bertugas menangkal mikroorganisme asing masuk lebih dalam. “Lapis berikutnya adalah makrofag, sel penjaga di dalam paru yang bertugas menelan dan menghancurkan kuman. Zat racun pada partikel asap melemahkan kemampuan sel ini menangkap kuman yang terlanjur masuk,” sebut dia. Akibat hilangnya dua lapis perlindungan tersebut, patogen leluasa berkembang biak dan memicu infeksi berat di kantong udara paru.

“Sampai di sini, paru sudah kehilangan dua lapis pertahanannya. Kuman yang biasanya bisa diatasi tubuh mendapat ruang untuk berkembang, dan pneumonia pun terjadi,” tutur Prof. Erlina. Kondisi ini membuat kantong udara dipenuhi cairan, sehingga proses pertukaran oksigen terganggu secara drastis. Risiko komplikasi kardiorespirasi jangka panjang Dampak lanjutan dari paparan asap karhutla bagi pengidap penyakit paru kronis tidak hanya berhenti pada infeksi lokal, melainkan merembet ke sistem peredaran darah, yang menyebabkan peradangan.

Prof. Tjandra menyampaikan, bahwa akumulasi polutan turut memicu berbagai komplikasi sistemik di dalam tubuh. “Pertama adalah dampak akut seperti terjadi ISPA. Kedua dampak lanjutan, seperti perburukan infeksi paru, penyakit asma, dan penyakit lain seperti dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardiorespirasi,” terang Prof. Tjandra. Apa yang bisa di lakukan? Mengingat tingginya ancaman tersebut, penderita asma dan PPOK wajib memperketat manajemen pengobatan mereka agar tidak jatuh pada serangan akut.

“Untuk yang asma ada tiga hal. Pertama, gunakan obat inhaler controller secara rutin. Kedua, gunakan reliever bila di perlukan. Ketiga, konsultasi ke dokter untuk jenis dan dosis obat,” sebut Prof. Tjandra. Penggunaan obat pengendali peradangan harus di lakukan secara konsisten selama kualitas udara masih berada di tingkat berbahaya. Terakhir, jangan lupa untuk terus menggunakan masker, meminimalisir kegiatan di luar rumah jika memungkinkan, menutup jendela dan pintu rumah jika asap terlalu tebal, dan nyalakan air purifier jika punya.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *