Hingga tanggal 23 Agustus 2026, CKG di Kota Bogor telah memeriksa 45.819 siswa dari 740 sekolah.Karies gigi menjadi masalah kesehatan terbanyak, ditemukan pada 62,2 persen atau 17.302 anak. (Nafilah Sri Sagita/detikHealth)
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Bogor memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan anak dan pelajar. Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah masih tingginya jumlah anak yang dinilai kurang melakukan aktivitas fisik. Kondisi tersebut menjadi tantangan karena aktivitas fisik berperan penting dalam menjaga kebugaran serta membantu mengendalikan berat badan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang di lakukan terhadap para siswa, sekitar 70 persen anak di sebut masih memiliki aktivitas fisik yang kurang. Pada saat yang sama, ribuan siswa di temukan mengalami obesitas. Angka tersebut menjadi perhatian karena masalah berat badan pada usia sekolah dapat berkaitan dengan pola hidup sehari-hari, termasuk kebiasaan bergerak, pola makan, serta waktu yang di habiskan untuk aktivitas sedentari.
Temuan CKG tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan anak tidak hanya berkaitan dengan penyakit yang muncul ketika seseorang sudah dewasa. Kebiasaan yang terbentuk sejak usia sekolah juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan dalam jangka panjang. Karena itu, hasil pemeriksaan kesehatan anak dapat menjadi dasar untuk meningkatkan perhatian terhadap pola hidup sehat di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Kurangnya aktivitas fisik pada anak dapat terjadi karena berbagai faktor. Perkembangan teknologi membuat anak semakin mudah menghabiskan waktu dengan perangkat di gital, seperti telepon pintar, komputer, dan televisi. Di sisi lain, kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik juga dapat berkurang akibat jadwal sekolah dan kegiatan lain yang padat.
Padahal, aktivitas fisik tidak selalu harus di lakukan melalui olahraga yang berat. Anak dapat di ajak berjalan kaki, bersepeda, bermain di luar rumah, mengikuti kegiatan olahraga di sekolah, atau melakukan permainan aktif bersama teman. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu anak lebih banyak bergerak dalam kehidupan sehari-hari.
Masalah obesitas pada pelajar juga membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. Orang tua memiliki peran penting dalam menyediakan makanan dengan gizi seimbang sekaligus membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat. Sekolah juga dapat membantu melalui kegiatan olahraga, edukasi mengenai nutrisi, serta lingkungan yang mendorong siswa untuk aktif bergerak.
Pemeriksaan kesehatan seperti CKG dapat menjadi momentum untuk mengetahui kondisi kesehatan anak secara lebih dini. Jika di temukan masalah berat badan atau faktor risiko lainnya, keluarga dapat memperoleh informasi untuk menentukan langkah berikutnya. Pendekatan sejak awal penting agar perubahan pola hidup dapat di lakukan secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Pemerintah daerah dan sekolah pun dapat menggunakan temuan tersebut sebagai bahan evaluasi. Penyediaan ruang terbuka, fasilitas olahraga, kegiatan ekstrakurikuler, serta program edukasi kesehatan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan aktivitas fisik siswa.
Angka sekitar 70 persen anak yang kurang aktivitas fisik dan sekitar 4 ribu siswa dengan obesitas menjadi pengingat bahwa kesehatan generasi muda membutuhkan perhatian bersama. Penanganannya tidak cukup hanya dengan meminta anak berolahraga, tetapi perlu menciptakan lingkungan yang membuat aktivitas fisik menjadi bagian alami dari kehidupan sehari-hari.

Dengan dukungan keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah, hasil pemeriksaan CKG di harapkan tidak berhenti sebagai data. Temuan tersebut dapat menjadi dasar untuk mendorong perubahan kebiasaan sehingga anak-anak di Bogor dapat tumbuh lebih aktif, bugar, dan memiliki pola hidup yang lebih sehat.

