Uncategorized

Flu Tak Kunjung Membaik dan Makin Sesak Bisa Jadi Tanda Pneumonia

Batuk, demam, dan tubuh terasa lemas sering kali di anggap sebagai keluhan ringan yang akan membaik
dengan sendirinya. Apalagi jika gejalanya muncul seperti flu biasa, seseorang mungkin memilih tetap
beraktivitas sambil menunggu kondisi tubuh pulih. Namun, ketika keluhan justru semakin berat,
terutama jika mulai muncul sesak napas, kondisi tersebut sebaiknya tidak terus di abaikan.

Pneumonia merupakan infeksi pada paru-paru yang dapat menimbulkan gejala serupa flu,
tetapi juga bisa menyebabkan kesulitan bernapas. Dokter spesialis penyakit menular sekaligus
profesor kedokteran pencegahan di Vanderbilt University Medical Center, William Schaffner,
mengatakan kebiasaan menunggu gejala membaik sendiri dapat menjadi masalah jika penyakit

yang di alami ternyata lebih serius. Baca juga: Jangan Terjebak Mitos, Alergi Telur hingga Autoimun
Boleh Vaksin Influenza “Waktu yang tepat untuk menghubungi dokter adalah sejak awal. Lebih awal,
kita dapat mencegah kondisi menjadi semakin buruk. Jika terlambat, kita justru harus berusaha
mengatasinya setelah kondisi sudah memburuk,” kata Schaffner, di lansir dari Men’s Health.

Saat Gejala yang Awalnya Ringan Mulai Berubah

Tidak setiap batuk dan demam berarti pneumonia.Michael S. Niederman, dokter spesialis paru dan
profesor kedokteran klinis di Weill Cornell MedicalCollege mengatakan, seseorang masih dapat
memantau kondisi apabila mengalami demam ringan,menggigil ringan, serta batuk dengan
lendir bening tanpa disertai sesak napas. Namun, situasinya

berbeda ketika gejala mulai berkembang. Demam yang terus berlangsung, menggigil hebat, nyeri
dada, sesak napas yang semakin berat, napas cepat, atau batuk disertai lendir kental merupakan
kondisi yang perlu di periksakan. Kenapa Pneumonia Bisa Disangka Flu? Salah satu alasan pneumonia
kerap terlambat di kenali adalah gejalanya tidak selalu khas. Batuk, demam, dan rasa lelah juga dapat
muncul ketika seseorang mengalami flu, Covid-19, atau bronkitis.

“Gejalanya saja tidak dapat di gunakan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami pneumonia
pneumokokus atau bahkan pneumonia sama sekali,” jelas Niederman. Karena itu, diagnosis
pneumonia tidak cukup di lakukan berdasarkan keluhan yang dirasakan. Dokter dapat
mempertimbangkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik, kemudian melakukan pemeriksaan
seperti rontgen dada dan mengukur kadar oksigen dalam darah jika di perlukan.

Sesak Napas Jadi Sinyal yang Perlu Diperhatikan

Jangan abaikan sinyal dari tubuh. Nyeri dada, sesak napas, mudah lelah, hingga detak jantung yang tidak teratur bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Kenali gejalanya, jangan tunggu sampai semakin parah. Karena menjaga

Pneumonia terjadi ketika infeksi menyebabkan peradangan pada kantung udara di paru-paru.
Kantung udara tersebut dapat terisi cairan atau nanah sehingga proses pertukaran oksigen
menjadi terganggu dan penderitanya lebih sulit bernapas. Kondisinya pun dapat berkembang
setelah seseorang mengalami infeksi saluran pernapasan lain. Influenza dan infeksi virus lainnya
dapat membuat saluran pernapasan mengalami peradangan sehingga lebih rentan terhadap

infeksi bakteri sekunder. Itulah sebabnya kondisi yang sempat membaik tetapi kemudian
kembali memburuk juga perlu di perhatikan. Schaffner menyarankan seseorang mencari
pertolongan medis apabila gejala terus berlangsung atau memburuk, napas menjadi
semakin sulit, atau kondisi yang sempat membaik tiba-tiba kembali parah.

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?

Tidak semua gejala pernapasan membutuhkan penanganan darurat. Namun, kesulitan
bernapas yang berat, bibir atau kulit yang berubah menjadi kebiruan atau keabu-abuan,
nyeri dada hebat, kebingungan, pingsan, sulit tetap terjaga, hingga batuk berdarah
merupakan tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera. Risiko pneumonia
berat juga dapat lebih tinggi pada orang berusia lanjut dan mereka yang memiliki

kondisi kesehatan tertentu. Kementerian Kesehatan menyebut usia, kondisi kesehatan,
dan perilaku tertentu sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko pneumonia.
Kendati demikian, batuk atau demam yang menyerupai flu memang tidak selalu

berarti kondisi serius. Namun, ketika keluhan mulai di sertai sesak napas atau justru
semakin memburuk setelah sempat membaik, sebaiknya jangan hanya menunggu
tubuh pulih sendiri. Pemeriksaan medis di perlukan untuk mengetahui penyebab
sebenarnya.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *