Video penjual leker yang memodifikasi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi isian
leker viral di media sosial. Dalam video viral tersebut, lauk dan sayur dari menu MBG yang dibawa
anak sekolah dimasukkan ke dalam kulit leker, lalu ditambahkan saus dan bumbu agar rasanya
lebih nikmat. Kreasi tersebut pun menuai beragam komentar dari warganet.
Sebagian menilai ide tersebut patut diapresiasi karena dapat membuat anak lebih lahap
menghabiskan makanan yang diterimanya. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan
apakah menu MBG masih tetap bergizi setelah dimodifikasi menjadi jajanan seperti leker.
Menanggapi hal itu, dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK mengatakan bahwa pada
dasarnya menu MBG tetap mengandung zat gizi penting dari bahan makanan utamanya. Dalam
menu tersebut sudah terdapat sumber protein dari bakso dan tempe, serta serat yang berasal dari sayuran.

Meski demikian, kandungan gizinya dapat berubah ketika makanan ditambahkan kulit leker, saus,
dan berbagai bumbu. Penambahan bahan-bahan tersebut membuat jumlah kalori menjadi lebih
tinggi. Selain itu, saus dan bumbu umumnya juga mengandung tambahan gula, garam, dan lemak
yang perlu dibatasi konsumsinya.
“Kalau cuma sesekali, nggak masalah. Yang jadi masalah kalau ini dilakukan setiap hari,” kata dr Yaze.
Menurut dr Yaze, jika makanan dengan tambahan gula, garam, dan lemak dikonsumsi setiap hari,
manfaat gizi dari menu MBG menjadi tidak lagi optimal. Bukan karena menu MBG kehilangan
kandungan gizinya, melainkan karena komposisi makanannya berubah sehingga asupan gula,
garam, lemak, dan kalori menjadi lebih tinggi dibandingkan menu aslinya.
Menurut dr Yaze, jika makanan dengan tambahan gula, garam, dan lemak dikonsumsi setiap hari,
manfaat gizi dari menu MBG menjadi tidak lagi optimal. Bukan karena menu MBG kehilangan
kandungan gizinya, melainkan karena komposisi makanannya berubah sehingga asupan gula,
garam, lemak, dan kalori menjadi lebih tinggi dibandingkan menu aslinya.
Dalam jangka panjang, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak juga
dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Asupan kalori yang berlebihan dapat
memicu kelebihan berat badan hingga obesitas, yang kemudian berkaitan dengan meningkatnya
risiko diabetes tipe 2 dan hipertensi. Kebiasaan tersebut juga dapat membentuk pola makan yang
kurang sehat karena anak menjadi lebih terbiasa dengan makanan bercita rasa manis, gurih, dan
berlemak.
Karena itu, dr Yaze menilai yang perlu menjadi perhatian bukanlah program MBG, melainkan cara
mengolah atau memodifikasi menu tersebut. Menurutnya, makanan tetap bisa dikreasikan agar
lebih menarik bagi anak, asalkan tidak berlebihan dalam menambahkan bahan pelengkap yang
tinggi gula, garam, lemak, maupun kalori.
“Bukan MBG-nya yang salah ya, tapi kita perlu memodifikasinya dengan bijak sehingga anak tetap
kenyang, sehat, dan kebutuhan gizinya tetap terpenuhi,” ujar dr Yaze.

